Guru SMA Diduga Jegal Nonmuslim Jadi Ketua OSIS

guru jegal siswa nonmuslim jadi ketos

Anggota DPRD DKI Jakarta berasal dari F-PDIP Ima Mahdiah mendapat laporan dugaan aksi intoleran selagi penentuan ketua OSIS di keliru satu SMA di Jakarta Utara. Merujuk laporan yang di terima Ima, aksi intoleransi itu dijalankan oleh seorang guru yang berharap supaya Ketua OSIS tak boleh nonmuslim.

“Saya terhitung terima laporan bukti berwujud rekaman pembicaraan guru dan siswa selagi berdiskusi seleksi Osis. Setelah melalui {beberapa|sebagian|lebih berasal dari satu} seleksi, terpilih 5 orang siswa kandidat ketua Osis dan keliru satunya daftar sbobet adalah non muslim. Dalam rekaman itu mengetahui bahwa guru selanjutnya mengatakan akan calon kandidat Ketua OSIS nonislam jangan hingga lolos karena menurutnya tidak dapat dikontrol nanti tepat pemilihannya”

Baca Juga : Beberapa Hal Perbedaan Sekolah Swasta dan Negeri

Saat menyambangi sekolah, Ima bersua segera oleh oknum guru diduga laksanakan aksi intoleran. Ima mencecar sejumlah pertanyaan, keliru satunya apa yang dikhawatirkan olehnya supaya menyebabkan pernyataan yang mengarah kepada sikap intoleran.

“Saya terhitung bertanya tersedia kekhawatiran apa kalau Ketua OSIS nonmuslim, karena pada dasarnya wajib dinilai berasal dari kapabilitas dan kapabilitas seseorang bukan berasal dari orang itu beragama apa,” ujarnya.

“Oknum guru selanjutnya menunjukkan bahwa perihal itu dijalankan karena mereka was-was kalau ketua OSIS yang terpilih bukan siswa muslim, akan condong menyebabkan program OSIS yang tidak pro Islam,” tambahnya.

Atas perihal ini, Ima pun mendesak supaya oknum guru selanjutnya dipecat. Jika merujuk pada UU no 14 th. 2005 pasal 30, seorang guru dapat diberhentikan bersama dengan tidak hormat kalau melanggar sumpah dan janji jabatan. Dalam sumpah Guru, kata dia, disebutkan bahwa Guru wajib berdasarkan nilai-nilai Pancasila, sedang Tindakan intoleransi ini melanggar nilai-nilai tersebut. “Saya sampaikan pada pimpinan Fraksi PDI Perjuangan memberi saran guru selanjutnya dipecat, supaya jera,” tegasnya.

Oknum Guru Juga Menjabat Sebagai Wakil Kepala Sekolah

Suku Dinas Pendidikan Jakarta Utara menindaklanjuti laporan dugaan aksi intoleran yang dilayangkan bagian dewan. Setelah ditelusuri, oknum guru selanjutnya menjabat sebagai Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan inisial E.

“Betul. Wakil kepala sekolah di bidang kesiswaan,” kata Kasudin Pendidikan Wilayah II Jakarta Utara Purwanto selagi dihubungi. Dinas Pendidikan pun memberikan sanksi pada oknum guru E berwujud pemberhentian selagi berasal dari jabatan Wakil Kepala Sekolah SMAN 52 Jakarta. Pemberian sanksi ini berdasarkan hasil penelusuran serta bukti rekaman nada yang sudah dikantongi.

“Saya sudah mengeluarkan SK pemberhentian selagi berasal dari jabatan wakil kepala sekolah untuk memudahkan sistem selanjutnya,” mengetahui Purwanto. “Karena itu kan tersedia bukti rekaman yang mengarahkan supaya menentukan calon ketua yang muslim itu sebagai bukti awal kita. Kemudian didalam menindak ini kami wajib tidak emosional namun mengacu pada aturan,” lanjutnya.

Tindak Lanjut Peraturan Sekolah

Saat ini, pihaknya tengah mengulas sejumlah peraturan untuk menentukan cara selanjutnya. Dalam perihal ini, pihaknya masih meneliti relevansi antara satu pasal bersama dengan pasal lainnya. “Jadi nanti hukumannya layaknya apa, tindakan sesudah itu apa, kami tengah mengulas relevansi bersama dengan pasal yang ada,” jelasnya.

Sementara ini, pihaknya hanya memberhentikan E sebagai Wakil Kepala Sekolah, mengingat aksi intoleran dilakukannya selagi mobilisasi tugas tambahan sebagai wakil kepala sekolah. Namun, E masih dapat mengajar sebagai guru di sekolah tersebut.

“Kan kapasitasnya sebagai wakil kepala sekolah, itu kan tugas tambahan berasal dari seorang pendidik. Maka karena berjalan di selagi tugas tambahan maka yang dinonaktifkan selagi (dari) tugas tambahannya,” katanya.

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.