Pengajaran di Papua Butuh Perhatian Era di Papua Amat Membutuhkan Pembelajaran

Pemerataan pengajaran menjadi salah satu dilema yang dihadapi Indonesia. Di wilayah perkotaan, para siswa dengan gampang dapat mengakses pengajaran berkwalitas. Namun di daerah terpencil, pengajaran menjadi hal langka, pun tidak diprioritaskan oleh masayarakat.

Seperti yang terjadi di Papua. Data Wahana Visi Indonesia (WVI) menampakkan, masih banyak warga usia di atas 15 tahun yang tidak dapat membaca. Kecuali itu, Papua juga belum cakap menuntaskan wajib belajar sembilan tahun. Meskipun, ketika ini situs slot gacor terbaru pemerintah sedang menggalakkan program wajib belajar 12 tahun.

“Si usia sekolah yang tidak bersekolah di Papua masih cukup tinggi. Dari data Restra Disdik 2013-2018, angka partisipasi sekolah pada 2012 usia 7-12 tahun 73,36 persen, 13-15 tahun 71,29 persen, dan 16-18 tahun 50,55 persen. Artinya kian tinggi jenjang pendidikannya, kian rendah partisipasi si kecil bersekolah,” terang Area Manager Program (WVI) di Papua, Charles Sinaga dalam media briefing di Gedung 33, Jakarta, Kamis (28/4/2016).

Kesanggupan membaca, menulis, dan berhitung (calistung) yang rendah di Papua, ucap Charles, disebabkan oleh beberapa unsur. Pertama, tidak adanya cara kerja pembelajaran yang teratur lantaran tingkat kehadiran guru yang tinggi. Unsur lainnya yakni angka kekerasan terhadap si kecil tinggi sehingga membikin siswa tidak nyaman di sekolah, ketidaktersediaan media pembelajaran, serta dukungan masyarakat masih rendah.

“Aktivitas belajar mendidik tidak relevan dengan lingkungan siswa, ketika guru galak atau menjalankan kekerasan si kecil jadi takut sekolah, kompetensi guru rendah, keterbatasan sarana pembelajaran, sampai distribusi guru tidak merata. Potret tersebut terjadi di Papua,” paparnya.

Menurut penemuan-penemuan tersebut, Charles berpendapat bahwa pengajaran di Papua darurat dan butuh taktik untuk meningkatkannya. Menurut dia, ketika ini pemerintah sendiri sudah mengalokasikan dana untuk pengajaran dan mendukung adanya pengajaran pilihan.

“Pengajaran pilihan itu seperti pengajaran berbahasa ibu, pengajaran kampung, pengajaran berbasis asrama, dan pengajaran karakter konstektual. Di program yang dilakukan di Papua, kami mengusung pengajaran berbahasa ibu dan karakter kontekstual, yakni Pakima Hani Hano,” ucapnya.

Ia menambahkan, pengajaran kontekstual berdasarkan kearifan lokal bukan berarti menguburkan Ke-Indonesia-an seseoorang. Karena, model yang ditawarkan yakni lingkungan pengajaran yang nyaman dan tentram, sehingga membikin si kecil semangat dalam menimba ilmu.

“Justru Indonesia itu dibangun karena keragamannya. Kami tidak mewujudkan kurikulum baru, melainkan sebagai pengayaan kurikulum nasional serta buku-buku suplemen pendorong metode pembelajaran,” tukasnya.

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.